OPINITanah Papua

Hilirisasi Sagu Papua: Solusi Energi Terbarukan dan Jawaban atas Ancaman Lingkungan

308
×

Hilirisasi Sagu Papua: Solusi Energi Terbarukan dan Jawaban atas Ancaman Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Benyamin Wayangkau Pemuda Adat Saireri, Sekretaris Aliansi Papua Maju Provinsi Papua, Kader GMKI

SERUIPOS.COM | Pembangunan infrastruktur di Papua, seperti proyek kereta api, kembali memunculkan perdebatan. Bagi sebagian kalangan, proyek tersebut bukanlah kebutuhan utama bagi Orang Asli Papua (OAP), terutama jika mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial yang berpotensi ditimbulkan.

Kerusakan lingkungan dan konflik tanah adat bukanlah isu baru. Dalam banyak kasus, pembangunan justru memicu persoalan baru, di mana masyarakat adat sering menjadi pihak yang paling dirugikan. Di sisi lain, pendekatan pemerintah yang mengedepankan mitigasi lingkungan kerap dinilai belum optimal dan cenderung reaktif.

- Iklan Berbayar -

Pola pembangunan yang dijalankan selama ini masih berfokus pada penyelesaian dampak setelah bencana terjadi, seperti pemberian bantuan sosial dan pembukaan posko darurat. Padahal, yang dibutuhkan adalah perencanaan matang yang mampu mencegah risiko sejak awal.

Dalam konteks ini, hilirisasi dan pengembangan sagu di Papua menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.

Potensi Besar Sagu untuk Ekonomi dan Lingkungan

Sagu merupakan komoditas lokal dengan potensi besar. Selain menopang pendapatan masyarakat adat, pengembangan sagu juga berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lebih dari itu, sagu sejalan dengan konsep ekonomi hijau karena pengelolaannya tidak merusak ekosistem hutan. Ini menjadikannya sebagai solusi pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dari Pangan Tradisional ke Energi Masa Depan

Selama ini, sagu dikenal sebagai bahan pangan tradisional seperti papeda. Namun, potensinya jauh lebih luas. Sagu dapat diolah menjadi berbagai produk pangan seperti tepung, mie, dan biskuit, serta produk non-pangan berbasis biomaterial.

Yang paling strategis, sagu berpotensi menjadi sumber energi terbarukan. Dari sagu dapat dihasilkan bioetanol, biogas, hingga bahan bakar ramah lingkungan seperti Alcohol-to-Jet (ATJ) dan Ethanol-to-Jet (ETJ), yang menjadi bagian dari produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur.

Di tengah meningkatnya ketergantungan dunia pada energi alternatif, pengembangan sagu menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan energi global.

Lebih Strategis dari Proyek Kereta Api

Jika dibandingkan, proyek kereta api di Papua dinilai belum memiliki urgensi yang jelas, baik dari sisi kebutuhan masyarakat maupun potensi ekonomi yang akan dihasilkan. Sebaliknya, hilirisasi sagu menawarkan manfaat langsung yang lebih nyata dan berkelanjutan.

Pengembangan sagu juga dinilai selaras dengan arah kebijakan nasional, termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2026–2035 yang mendorong diversifikasi energi dan hilirisasi sumber daya alam.

Selain itu, visi pembangunan nasional juga menekankan pentingnya pembangunan berbasis desa dan penguatan ekonomi lokal, yang sejalan dengan pengembangan sagu di Papua.

Penutup

Di tengah kompleksitas persoalan lingkungan dan ancaman bencana alam di Papua, dibutuhkan kebijakan pembangunan yang tidak hanya ambisius, tetapi juga bijak dan berkelanjutan. Hilirisasi sagu menjadi salah satu solusi konkret yang mampu menjawab kebutuhan ekonomi, menjaga lingkungan, sekaligus berkontribusi pada ketahanan energi global.


Benyamin Wayangkau
Pemuda Adat Saireri, Sekretaris Aliansi Papua Maju Provinsi Papua, Kader GMKI