BERITATanah Papua

Pengadilan Kristus Jadi Peringatan Tegas di Awal Mei bagi Jemaat GPdI Batu Zaman

329
×

Pengadilan Kristus Jadi Peringatan Tegas di Awal Mei bagi Jemaat GPdI Batu Zaman

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Perayaan ibadah Minggu Raya yang dirangkaikan dengan Sakramen Perjamuan Kudus digelar oleh jemaat GPdI Getzemani Batu Zaman, Distrik Waropen Bawah, Kabupaten Waropen, Papua, Minggu (3/5/2026).

​Pelaksanaan ibadah awal bulan Mei ini berjalan dengan penuh ucapan syukur. Jemaat memuji dan menyembah Tuhan dengan penuh sukacita.

- Iklan Berbayar -

​Ibadah dipimpin langsung oleh Worship Leader Pdt. Selly Ayomi selaku Wakil Gembala. Lantunan-lantunan lagu yang dibawa ikut membuat jemaat terlarut dalam hadirat Tuhan.

​Jemaat yang hadir turut memberikan kesaksian hidup, menceritakan kebaikan Tuhan yang nyata baik dalam keadaan duka maupun suka. Kesaksian juga disampaikan melalui pujian dengan menyanyikan lagu “Yesus Baik, baik buat saya”.

​Worship Leader kembali memandu pujian dengan menyanyikan lagu Pantekosta mula-mula, “Saya Tahu Namaku di Sana Dalam Buku Kehidupan Kekal”. Lagu ini disambut penuh antusias; jemaat menyanyi, menari, melompat, hingga menepuk tangan memuji Tuhan. Seluruh pelayan musik, singer, hingga jemaat menikmati hadirat Tuhan penuh tuntutan Roh Kudus.

​Usai membawakan pujian-pujian dan kesaksian, acara ibadah masuk dalam pemberitaan Firman Tuhan yang dibawakan oleh Gembala Jemaat, Pdt. Daniel Wenggi.

 

​Ayat pokok terdapat dalam 2 Korintus 5:10, yang menegaskan bahwa kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus. Pdt. Daniel menekan secara mendalam bahwa pengadilan ini adalah saat di mana setiap orang menerima apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukan dalam tubuh ini, baik ataupun jahat. Ia menekankan bahwa tidak ada satu pun yang akan lolos, satu persatu akan diperiksa secara teliti dalam pengadilan Tuhan. Apa yang kita tabur selama hidup, itulah yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya, dengan dua pilihan mutlak, Sorga atau Neraka.

​Dalam penjelasannya mengenai Kitab Daniel 2:2, Pdt. Daniel mengaitkannya dengan otoritas dan hikmat ilahi yang melampaui segala kuasa duniawi. Beliau menyoroti bagaimana pengadilan Kristus merupakan sebuah “Sidang Ilahi” Allah—sebuah konsep majelis sorgawi yang juga sering dibahas dalam studi Alkitab—yang didasarkan pada ranking atau tingkat kesetiaan kerja rohani kita. Beliau mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun seperti menjadi seorang koster, bukanlah pekerjaan rendah, melainkan pelayanan mulia yang akan dinilai kembali dalam pengadilan Allah untuk menerima keputusan yang bersifat pasti dan mutlak.

​Lebih lanjut, ia memaparkan pandangan eskatologis mengenai pengadilan Kristus yang berlangsung selama 75 hari di udara, sebuah periode yang dalam beberapa penafsiran teologi akhir zaman dipandang sebagai masa penentuan sebelum kerajaan seribu tahun. Momen ini berkaitan erat dengan peristiwa pembukaan meterai ketujuh (seperti yang tertulis dalam Kitab Wahyu), di mana orang-orang yang mati dalam Kristus dibangkitkan untuk peristiwa Pengangkatan (Rapture) atau pertemuan di udara bagi orang-orang saleh. Pengadilan ini bertujuan memberikan keputusan mutlak bagi setiap jiwa yang setia, di mana seluruh rekam jejak kehidupan diperlihatkan kembali sebagai ujian kesetiaan di hadapan Allah.

​Beliau pun meminta kepada seluruh jemaat Tuhan untuk memaknai ibadah sebagai gaya hidup yang luas, termasuk menjunjung tinggi kejujuran dengan tidak mencuri dan selalu berbuat baik. “Ibadah membungkus banyak hal dalam kehidupan kita sebagai umat kepunyaan Allah,” jelasnya.

​Setelah pemberitaan Firman, pujian “Waktu Masih Hidup Dengar Firman dan Bersedia” dinyanyikan dengan penuh perenungan. Memasuki prosesi Sakramen Perjamuan Kudus, Majelis Jemaat bersama Gembala melayani jemaat dengan iringan lagu “Darah-Nya Amat Kuasa” dan “Bilur-Nya, Bilur-Nya”.

​Ibadah dilanjutkan dengan pemberian korban persembahan melalui lagu “Seranyo, Seranyo”. Sebelum ditutup, Sekretaris Jemaat, Hamba Tuhan Petrus Rumboisano, menyampaikan informasi kegiatan gereja, dan seluruh rangkaian ibadah diakhiri dengan doa tutup oleh Gembala Jemaat. (**)