BERITASosial MasyarakatTanah Papua

Relawan TIK Papua Dorong Literasi Digital untuk Tangkal Berita Editan AI

499
×

Relawan TIK Papua Dorong Literasi Digital untuk Tangkal Berita Editan AI

Sebarkan artikel ini
Mark Imbiri - Relawan TIK Papua

SERUIPOS.COMMark Imbiri mengingatkan masyarakat agar lebih aktif dan kritis dalam menghadapi arus informasi di era kecerdasan buatan (AI), yang dinilai semakin menyulitkan publik membedakan antara berita faktual dan konten hasil rekayasa.

Dalam momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap 3 Mei, ia menekankan bahwa partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kualitas informasi di ruang publik, khususnya di Papua.

- Iklan Berbayar -

“Dengan kemajuan AI, konten yang dihasilkan bisa sangat meyakinkan, baik dalam bentuk teks, gambar, maupun video. Karena itu masyarakat tidak bisa lagi hanya menjadi konsumen, tetapi harus terlibat aktif dalam memproduksi dan memverifikasi informasi,” kata Mark.

Ia mendorong pengguna media sosial untuk secara berkelanjutan membuat konten, sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengenali perbedaan antara informasi yang autentik dan konten manipulatif berbasis AI.

Menurutnya, keterlibatan publik tidak hanya memperkuat literasi digital, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kolektif dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat.

Mark juga menegaskan bahwa kebebasan pers harus tetap menjadi instrumen utama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Pers yang independen dinilai berperan penting dalam mendorong perubahan, sekaligus menjadi alat kontrol terhadap kebijakan pemerintah dan berbagai sektor lainnya.

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia sendiri merupakan momentum global untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar kebebasan pers, mengevaluasi kondisi kebebasan media di berbagai negara, serta membela independensi jurnalisme dari berbagai tekanan.

Hari tersebut pertama kali ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada Desember 1993, menyusul rekomendasi UNESCO. Tanggal 3 Mei dipilih untuk memperingati Deklarasi Windhoek tahun 1991, yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan kebebasan pers di dunia.

Selain itu, peringatan ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para jurnalis yang gugur saat menjalankan tugas, sekaligus pengingat bahwa pers yang merdeka merupakan fondasi utama dalam kehidupan demokrasi.

Dalam konteks perkembangan teknologi yang pesat, Mark menilai tantangan terhadap kebebasan pers kini semakin kompleks. Oleh karena itu, sinergi antara masyarakat, media, dan pemerintah diperlukan untuk memastikan informasi yang beredar tetap akurat, terpercaya, dan bertanggung jawab. (**)