BERITANasional

Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Masyarakat Diminta Waspada

412
×

Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Masyarakat Diminta Waspada

Sebarkan artikel ini
Aktivitas Pasar ARORO IRORO, Serui - Foto Antara

SERUIPOS.COM | Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional. Dengan kurs yang masih berada di kisaran Rp 17.300 per dolar AS, tekanan terhadap daya beli masyarakat diperkirakan akan semakin terasa.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan inflasi. Kondisi ini dapat semakin berat seiring tingginya harga minyak mentah dunia yang turut memengaruhi biaya produksi dan distribusi.

- Iklan Berbayar -

“Kepercayaan konsumen menurun dan aktivitas ekonomi akan melamban,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, pelemahan kurs rupiah memiliki efek domino terhadap berbagai sektor. Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya harga barang impor, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga kebutuhan di dalam negeri.

Sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling terdampak, mengingat masih tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku, komponen, dan barang modal dari luar negeri. Kenaikan biaya produksi ini berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi.

Tidak hanya sektor industri, komoditas pangan juga ikut terpengaruh. Sejumlah bahan pokok seperti gandum, kedelai, dan daging sapi yang masih diimpor akan mengalami kenaikan harga seiring melemahnya nilai tukar rupiah.

Lukman memproyeksikan, nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah hingga menyentuh Rp 18.000 per dolar AS pada akhir semester I-2026. Dalam waktu dekat, rupiah bahkan diperkirakan dapat bergerak ke level Rp 17.500 per dolar AS.

Ia menjelaskan, minimnya sentimen positif dari dalam negeri maupun global membuat pergerakan rupiah sangat dipengaruhi dinamika eksternal, termasuk perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia.

Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan Bank Indonesia bersama pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan pengetatan, seperti menaikkan suku bunga dan mengendalikan defisit anggaran guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Di tengah kondisi tersebut, investor juga diimbau untuk lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Mata uang Asia dinilai masih berisiko, sementara beberapa mata uang utama seperti franc Swiss dan dolar Australia dinilai lebih menarik dalam jangka pendek.

Pelemahan rupiah yang berkelanjutan dikhawatirkan tidak hanya menekan sektor usaha, tetapi juga mempersempit ruang belanja masyarakat, terutama untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Situasi ini menuntut kewaspadaan berbagai pihak dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. (**)