PendidikanSEJARAH

Serui, Onderwys Centrum di Tanah Papua: Jejak Pendidikan dari Zaman Zending

622
×

Serui, Onderwys Centrum di Tanah Papua: Jejak Pendidikan dari Zaman Zending

Sebarkan artikel ini
Anak-anak JVVS Blijdorp Serui 1961 sedang dalam perjalanan menuju ke pantai, dipimpin oleh Laban Samori (dipersiapkan menjadi guru muda di JVVS). Dok foto Hindrik van der meer seorang guru JVVS Blijdorp yg pernah tinggal di Serui tahun 1961.

Serui Pos — Serui di Pulau Yapen pernah berdiri sebagai salah satu pusat pendidikan terpenting di Papua pada masa kolonial Belanda. Kota kecil ini dikenal dengan sebutan Onderwys-Centrum atau “pusat pendidikan”, sebuah julukan yang bukan sekadar simbol, melainkan realitas sejarah yang tercatat dalam berbagai sumber, termasuk laporan ilmiah karya Albert Rumbekwan yang diterbitkan oleh Universitas Cenderawasih.

Sejarah pendidikan di Papua tak lepas dari peran misi Protestan atau Zending. Ketika Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler tiba di Pulau Mansinam pada 1855, mereka tidak hanya membawa Injil, tetapi juga gagasan tentang pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter dan peradaban.

- Iklan Berbayar -

Sekolah pertama berdiri tak lama setelah itu. Model pendidikan zending kemudian menyebar ke berbagai wilayah pesisir Papua, termasuk Kepulauan Yapen.

Menurut Rumbekwan dalam kajiannya, pendidikan di Yapen berkembang pesat pada awal abad ke-20 ketika gelombang guru dari Maluku dan Sanger didatangkan untuk mengajar. Kehadiran mereka menjadi tonggak penting dalam membangun sistem pendidikan terstruktur di Serui.

sekolah Perawat ada juga sekolah gadis yaitu Sekolah Sambungan Putri (MVVS) di serui ( foto tahun 1958)

Berikut gambaran singkat perkembangan pendidikan di Serui:

Tahun 1855–1856 ; Masuknya misi Protestan di Mansinam dan berdirinya sekolah awal zending.

Awal Tahun 1900-an (sekitar 1912) ; Guru-guru dari Maluku dan Sangir tiba di Serui. Sekolah dasar mulai berkembang dan murid dari berbagai kampung berdatangan.

Tahun 1924 ; Pendeta D.C.A. Bout memperkuat pelayanan gereja dan pendidikan di Serui, membangun fasilitas pendukung seperti rumah pastori dan asrama.

Tahun 1950–1962 ; Masa keemasan Serui sebagai Onderwys-Centrum. Berbagai sekolah lanjutan dan kejuruan berdiri lengkap dengan sistem asrama.

Pada periode ini berdiri berbagai lembaga pendidikan, antara lain JVVS dan MVVS (sekolah lanjutan putra dan putri), Lagere School A & B (sekolah dasar), Sekolah guru (OVVO/ODO), Sekolah teologi, Sekolah perawat dan kebidanan dan juga Kursus pertanian dan keterampilan.

Serui menjadi magnet pendidikan. Anak-anak muda dari berbagai wilayah Papua datang untuk menimba ilmu. Sistem asrama memungkinkan proses pembelajaran berjalan intensif dan terstruktur.

Dalam laporan yang dipublikasikan melalui LPPM Universitas Cenderawasih, disebutkan bahwa sistem pendidikan di Serui pada masa itu bukan hanya mengajarkan baca tulis, tetapi juga membentuk tenaga guru, tenaga kesehatan, dan pelayan gereja yang kemudian menyebar kembali ke kampung-kampung.

Serui menjadi ruang tumbuhnya generasi terdidik Papua. Di kota kecil inilah lahir benih intelektual yang kelak memainkan peran penting dalam masyarakat.

Sekolah Merangkap Ruang Ibadah (Gereja) di Nundawipi

Seperti juga pernah ditulis oleh Kompas.com dalam artikelnya tentang Yapen sebagai kota pusat pendidikan pada zaman Belanda, Serui memiliki jaringan sekolah paling lengkap di Papua pada masanya.

Sejarah itu kini menjadi cermin. Bahwa di tanah ini, pendidikan pernah tumbuh subur dan menjadi fondasi perubahan sosial. Warisan tersebut menjadi pengingat bahwa Yapen memiliki akar kuat dalam dunia pendidikan.

Serui bukan sekadar kota pesisir. Ia adalah saksi sejarah lahirnya peradaban pendidikan di Tanah Papua sebuah identitas yang patut dibangkitkan kembali di tengah tantangan zaman. (**)