PendidikanSEJARAH

Kisah Hindrik van der Meer, Guru JVVS Blijdorp Serui 1961 yang Mencari Jejak Murid-Muridnya

686
×

Kisah Hindrik van der Meer, Guru JVVS Blijdorp Serui 1961 yang Mencari Jejak Murid-Muridnya

Sebarkan artikel ini

Serui Pos – Sejarah pendidikan di Serui pada awal 1960-an menyimpan banyak kisah berharga. Salah satunya datang dari seorang guru asal Belanda, Hindrik van der Meer, yang pernah mengabdi sebagai pengajar di JVVS Blijdorp Serui pada tahun 1961.

Hindrik van der Meer dikenal sebagai guru seni yang luar biasa. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya pemain terompet di Papua pada masanya, dengan permainan musiknya yang bahkan disiarkan oleh Radio Biak. Di tengah suasana politik yang mulai memanas menjelang peralihan kekuasaan Papua, Van der Meer tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan penuh dedikasi.

- Iklan Berbayar -

Kala itu, ia mengajar di JVVS Blijdorp Serui dengan kepala sekolah Johan van Bruggen. JVVS atau Jongens Vervolg School merupakan sekolah lanjutan setelah Sekolah Rakyat (Dorp School) tiga tahun. Anak-anak berusia 9 atau 10 tahun melanjutkan pendidikan dasar mereka selama tiga tahun di sekolah ini.

JVVS Serui, yang lebih dikenal dengan nama Blijdorp, memiliki keistimewaan tersendiri. Sekolah ini disebut-sebut sebagai satu-satunya di Nieuw Guinea yang memiliki kebun binatang kecil dengan taman bunga yang indah. Keindahan taman itu bahkan melahirkan kenangan mendalam bagi para muridnya.

Salah seorang murid yang kini mengenang masa itu, Alexander, menyebut Blijdorp sebagai “Taman Eden” yang indah.

“Jongens Vervolg School – JVVS – adalah sekolah dasar sambungan setelah tamat Sekolah Rakyat tiga tahun. JVVS Serui yang lebih dikenal sebagai Blijdorp hanya satu-satunya di Nieuw Guinea yang memiliki kebun binatang dengan taman bunga yang permai. Orang mengenal lagu ‘Di Taman Bunga yang Permai’ di ODO Serui Manise, itu bohong. Karena taman bunga di JVVS Serui tak ada tandingannya bahkan di seluruh Nieuw Guinea,” kenangnya.

Alexander juga mengingat satu peristiwa yang sangat membekas. Saat isu perang dengan Indonesia mulai terdengar, anak-anak sekolah menirukan gaya baris-berbaris.

“Kiri… kanan… kiri… kanan…,” ujar mereka kala itu.

Namun Meneer Van der Meer menegurnya.

“Alexander… hentikan itu. Perang adalah hal terburuk dalam kehidupan. Saya telah mengalaminya sendiri (Perang Dunia II) di Belanda. Saya trauma mendengar suara itu,” tutur sang guru, seperti diingat Alexander.

Kini, puluhan tahun telah berlalu. Hindrik van der Meer menyimpan kerinduan mendalam untuk mengetahui kabar para “anak laki-laki” muridnya di JVVS Blijdorp Serui tahun 1961. Ia berharap dapat menghubungi kerabat atau keluarga dari para muridnya yang dulu, di antaranya:

Naaman Abubar, Abner Arebo, Jan Arisoi, Jacobus Arobaja, Martinus Auparai, Jan Auparai, Mathius Bonai, Luther Bonai, Dominggus Diri, Daud Donggori, Toni Duwiri, Jorgen Imbiri, Justus Imbiri, Jean Iwanggin, Jacob Kirihio, Micha Koridama, Wempi Mbaubedari, Klemens Maniakori, Agustinus Manobi, Jason Muabuai, Herkulaus Muai, Tubal Nusi, Utrech Nusi, Dedjon Rerei, Markus Rogi, Barend Rumi, Aleksander Runggeari, Menase Satia, Pieter Sembai, Uria Sirami, Jacobus Tanati, Tan Kok Tiu, Jan Wairara, Dani Wairisal, Jan Worumi, Nahom Werimon, Amrosius Wihiyawari, Petrus Windai, Lodewijk Woisiri, Akwila Wona, Demitrios Wonai, Mozes Waramori, Thomas Agaki, dan Gerard Awairaro.

Bagi Alexander dan kawan-kawannya, Blijdorp Serui bukan sekadar sekolah.

“Blijdorp Serui sesungguhnya wujud Taman Eden nan indah yang kemudian hilang karena dosa manusia. Dan kebahagiaan yang pernah kami alami dan rasakan di sana tak akan pernah kembali,” tutupnya penuh haru.

Kisah ini bukan hanya tentang seorang guru Belanda dan murid-muridnya, tetapi tentang sepotong sejarah pendidikan Serui yang pernah menghadirkan kebahagiaan, disiplin, seni, dan kemanusiaan di tengah masa transisi yang penuh gejolak. (**)

Serui Tempo Dulu