Serui Pos – Di tengah geliat pembangunan modern Kota Serui hari ini, tak banyak yang mengetahui bahwa sebuah batu besar berbentuk silinder pernah menjadi alat utama dalam meratakan landasan terbang pada tahun 1936.
Batu yang dikenal sebagai “batu guling” itu menjadi saksi awal pembangunan kota yang kala itu masih dilakukan secara manual, jauh sebelum alat berat dan mesin modern hadir di tanah Yapen.
Pada masa itu, para pekerja meratakan lapangan terbang di Serui dengan menggunakan roller sederhana yang terbuat dari batu. Sistem kerjanya sangat tradisional; batu guling diikat dengan tali yang terhubung pada as besi, kemudian disambungkan ke sebatang kayu panjang. Kayu tersebut ditarik oleh dua orang, dan di bagian depan kembali dihubungkan dengan kayu lain yang ditarik dua orang berikutnya. Seluruh proses mengandalkan kekuatan fisik manusia.
Landasan terbang yang kini dikenal sebagai bagian dari sejarah penerbangan di Serui dulunya diratakan dengan cara demikian. Batu guling itu menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong royong masyarakat dalam membangun kota yang saat itu masih disebut sebagai Kota ACIS.
Namun seiring waktu, batu bersejarah tersebut perlahan kehilangan perhatian. Ketika terjadi peralihan administrasi Papua dari pemerintah kolonial Belanda kepada Indonesia pada awal 1960-an, batu itu terlihat berada di ujung Lapangan Trikora, dekat rumah Kapolres saat itu. Setelah itu, batu tersebut beberapa kali dipindahkan.
Batu guling sempat berada di simpang jalan kompleks rumah sakit lama depan rumah keluarga Woriori atau di samping jalan keluarga Mbaubedari. Selanjutnya, posisinya kembali dipindahkan ke sekitar pasar ikan lama, yang kemudian menjadi lokasi Toko Kain Abadi. Dalam perjalanan waktu, batu bersejarah itu nyaris hilang dan terkubur, seakan menjadi benda biasa yang diabaikan, bukan lagi simbol sejarah pembangunan Serui.
Kesadaran akan nilai sejarah batu tersebut kembali muncul pada tahun 2013. Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-85 Sumpah Pemuda,KNPI mengambil inisiatif untuk menyelamatkannya. Dikoordinir oleh pemuda PAM GKI Efata Tarau, batu guling itu digulingkan dari lokasi terakhirnya di sekitar areal pasar menuju lapangan Trikora (Alun-alun).
Sejak saat itu, batu guling bersejarah tersebut ditempatkan di lapangan Trikora Serui dan terakhir dipindahkan ke taman 7 suku menjadi pajangan biasa hingga sekarang.
Meski demikian, keberadaannya masih minim penanda sejarah resmi yang menjelaskan nilai dan perannya dalam pembangunan awal di Serui.
Batu guling bukan sekadar bongkahan batu. Ia adalah saksi bisu kerja keras generasi terdahulu, simbol semangat membangun dengan keterbatasan, serta pengingat bahwa Serui pernah bertumbuh dari keringat dan tenaga manusia tanpa bantuan teknologi modern.
Kini, harapan masyarakat adalah agar batu guling tersebut tidak lagi dipandang sebagai benda biasa, melainkan diakui sebagai bagian dari warisan sejarah daerah. Penetapan sebagai benda cagar budaya atau minimal dilengkapi dengan prasasti informasi dinilai penting agar generasi muda mengetahui jejak awal pembangunan kota yang mereka tempati hari ini.
Sebab dari batu sederhana itulah, sejarah panjang pembangunan Serui pernah dimulai. (**)
Ditulis ulang oleh : Mark Imbiri
















