EDUKASISosial Masyarakat

Tiga Kali Lolos dari Maut, Iman dan Doa Jadi Penopang Hidup

539
×

Tiga Kali Lolos dari Maut, Iman dan Doa Jadi Penopang Hidup

Sebarkan artikel ini

Serui Pos – Kesaksian iman datang dari Danny Wairara, seorang hamba Tuhan yang mengaku telah tiga kali dilepaskan dari ancaman maut. Baginya, setiap peristiwa itu bukan kebetulan, melainkan bukti nyata kuasa Tuhan dalam hidupnya.

“Kuasa Tuhan, doa dan iman itu nyata. Hidup dan matiku milik Tuhan. Kalau saya masih diberi nafas sampai hari ini, berarti saya harus bekerja lebih giat melayani umat Tuhan dan memberi buah dalam pelayanan,” ungkap Danny saat membagikan kesaksiannya.

- Iklan Berbayar -

Nyaris Meregang Nyawa di Pedalaman Mamberamo

Peristiwa pertama terjadi pada tahun 2020, di masa pandemi Covid-19. Usai menerima vaksin, Danny mengalami sesak napas hebat saat bertugas di wilayah pedalaman Mamberamo yang terisolir.

Dalam kondisi kritis, ia hanya mampu memanjatkan doa singkat.

“Tuhan, jika hamba-Mu ini harus mati, biarkan aku mati dalam kuasa-Mu. Tapi jika aku harus tetap hidup, jadilah menurut kehendak-Mu. Tugasku adalah melayani dan memberi buah.”

Dengan perjalanan darurat selama sembilan jam menuju Serui, ia akhirnya mendapat pertolongan medis dan selamat dari kondisi yang hampir merenggut nyawanya.

27 Jam Terombang-Ambing di Laut

Peristiwa kedua yang paling dramatis terjadi pada 20 Januari 2024 pukul 13.00 WIT. Danny bersama istri, anak pertamanya yang baru berusia 1 tahun 1 bulan, adik perempuan, ponakan, dua pemuda, seorang motores beserta istri dan anaknya mengalami kecelakaan laut di muara Mamberamo.

Ombak setinggi sekitar 9 meter dan satu mesin motor tempel yang mogok membuat mereka terjebak dalam badai ganas.

Sebagian rombongan, termasuk istri dan anaknya yang masih bayi, bertahan menggunakan penutup box ikan, jeriken dan matras bayi hingga akhirnya mencapai tepian pantai Rapamerey sekitar pukul 18.00 WIT.

Namun Danny bersama adiknya dan istri sang motores terseret arus lebih jauh. Mereka terombang-ambing dari Mamberamo ke arah belakang Pulau Kurudu-Kaipuri, hampir mendekati pantai utara Serui, lalu kembali lagi ke muara Bonoi.

Selama 27 jam mereka bertahan hanya dengan sepotong kardus kecil. Tubuh mereka terluka, bahkan sebagian daging menjadi santapan ikan laut.

“Tujuh kali maut datang mendekat, tapi tujuh kali juga Tuhan beri keselamatan,” kenang Danny.

Di ujung kekuatan, doa kembali dipanjatkan.

“Kalau hari ini adalah hari kematian kami, antarlah jasad kami ke tepian pantai agar kami pulang dalam damai-Mu. Tapi kalau belum waktunya, selamatkanlah kami dalam kasih-Mu.”

Pada 21 Januari 2024 pukul 16.00 WIT, pertolongan itu datang. Mereka akhirnya diselamatkan.

Hidup adalah Kesempatan

Bagi Danny Wairara, pengalaman tersebut menjadi titik balik spiritual dalam hidupnya. Ia percaya bahwa jika Tuhan masih memberi kesempatan hidup, maka itu harus dipakai untuk memuliakan-Nya.

“Percayalah, kalau belum waktu kita, Tuhan pasti berperkara menyelamatkan. Tapi ingat, kalau sudah diberi kesempatan hidup, jangan sia-siakan. Gunakan untuk melayani dan memuliakan Tuhan,” pesannya.

Kesaksian Danny Wairara kini menjadi penguatan iman bagi banyak orang, bahwa di tengah badai, di ujung maut, doa yang tulus dan iman yang teguh mampu menjadi jangkar keselamatan. (**)