SERUIPOS.COM – Komunitas pendukung Timnas Jerman di Kabupaten Kepulauan Yapen yang tergabung dalam DePanzerui mengapresiasi sikap para pemain Jerman dan Curacao yang berdoa bersama usai pertandingan Piala Dunia 2026.
Ketua DePanzerui, Pieter Pulung, menilai momen tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara tentang kemenangan dan kekalahan, tetapi juga tentang nilai persaudaraan, sportivitas, dan kehidupan beriman.
Momen menyentuh hati itu terjadi usai pertandingan Jerman kontra Curacao pada laga perdana Grup E Piala Dunia 2026. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Houston, Amerika Serikat, Die Mannschaft tampil dominan dan mengalahkan Curacao dengan skor telak 7-1.
Tujuh gol kemenangan Jerman dicetak oleh Kai Havertz yang memborong dua gol, Felix Nmecha, Nico Schlotterbeck, Jamal Musiala, Nathaniel Brown, dan Deniz Undav. Sementara satu-satunya gol Curacao dicetak oleh Livano Comenencia.
Namun perhatian publik tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan. Sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, lima pemain Curacao yakni Joshua Brenet, Jeremy Antonisse, Gervane Kastaneer, Jurien Gaari, dan Kenji Gorre membentuk lingkaran kecil untuk berdoa bersama di tengah lapangan.
Momen tersebut semakin menarik ketika dua pemain Jerman, Felix Nmecha dan Jonathan Tah, turut bergabung bersama para pemain Curacao. Mereka kemudian berdoa bersama sebagai ungkapan syukur sebelum saling bersalaman dan berpelukan.
Dalam wawancara usai pertandingan, Felix Nmecha menjelaskan alasan dirinya ikut bergabung dalam kelompok doa tersebut.
“Kami memang lawan saat pertandingan, tapi di luar itu kami sama-sama bersaudara dalam Kristus. Kemudian kami berdoa bersama untuk memanjatkan syukur,” ujar Nmecha.
Bagi Pieter Pulung, tindakan yang ditunjukkan para pemain tersebut merupakan contoh positif yang layak diteladani oleh seluruh penggemar sepak bola.
“Apa yang dilakukan para pemain Jerman dan Curacao dengan berdoa bersama setelah pertandingan adalah contoh yang sangat baik. Kita boleh berbeda dukungan, tetapi persaudaraan dan rasa hormat harus tetap dijaga. Sepak bola yang maju adalah sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas,” ujar Pieter Pulung di Serui.
Menurutnya, kemajuan olahraga, khususnya sepak bola, harus dibangun di atas semangat persaingan yang sehat dan saling menghormati, bukan permusuhan karena perbedaan dukungan.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat Papua memiliki hubungan sejarah dengan Jerman dalam perjalanan masuknya Injil di Tanah Papua. Karena itu, nilai-nilai iman dan persaudaraan yang ditunjukkan para pemain Jerman menjadi sesuatu yang layak diapresiasi.
“Terlebih lagi ada nilai sejarah yang menghubungkan Jerman dengan Tanah Papua dalam perjalanan pekabaran Injil. Karena itu kami sebagai pendukung Jerman di Serui merasa bangga melihat para pemain tidak hanya menunjukkan kualitas sepak bola, tetapi juga memberi teladan tentang iman, kerendahan hati, dan persaudaraan,” katanya.
Pieter berharap seluruh komunitas pendukung Piala Dunia 2026 di Kabupaten Kepulauan Yapen dapat menjadikan momen tersebut sebagai inspirasi untuk terus menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keharmonisan selama perhelatan Piala Dunia berlangsung.
“Perbedaan dukungan adalah hal yang biasa dalam sepak bola. Namun persaudaraan harus tetap menjadi yang utama. Apa yang ditunjukkan pemain Jerman dan Curacao adalah pesan bahwa sepak bola dapat mempersatukan banyak orang dari latar belakang yang berbeda,” tutupnya. (**)
Penulis: Redaksi SeruiPos.com

















