SEJARAHTANAH PAPUA

Guru Zending Belanda di Pulau Yapen: Jejak Pengabdian Zakarias Reawaruw

594
×

Guru Zending Belanda di Pulau Yapen: Jejak Pengabdian Zakarias Reawaruw

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Masuknya Injil di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 tidak hanya menjadi tonggak penyebaran Kekristenan di Tanah Papua, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya pendidikan modern yang melahirkan generasi-generasi terdidik, termasuk di Pulau Yapen.

Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah tersebut adalah Zakarias Reawaruw, seorang guru Injil asal Waai, Ambon, yang diutus oleh Zending Belanda untuk melayani di Kampung Serui Laut pada tahun 1926.

Kehadiran Guru Zakarias Reawaruw bersama istrinya, Yohana Tahitu, disambut hangat oleh masyarakat Serui Laut. Mereka menempati rumah guru yang telah disediakan warga di sekitar sekolah yang berdiri di atas Pulau Nundawipi. Bangunan sederhana beratap daun sagu dan berdinding gabah itu tidak hanya difungsikan sebagai sekolah, tetapi juga menjadi tempat ibadah bagi jemaat setiap hari Minggu.

Di tengah keterbatasan fasilitas, Guru Reawaruw mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak dan membina kehidupan rohani masyarakat. Karena pengaruh dialek masyarakat setempat, ia lebih dikenal dengan sebutan “Guru Lewaro”.

Peran para guru Injil seperti Zakarias Reawaruw diyakini menjadi fondasi lahirnya banyak tokoh besar dari Yapen, khususnya Kampung Serui Laut. Beberapa nama yang kemudian dikenal di tingkat nasional antara lain Silas Papare, Eliezer Jan Bonay, Herman Wayoi, hingga Laksamana Freddy Numberi.

Selama bertugas di Serui Laut, pasangan Zakarias Reawaruw dan Yohana Tahitu dikaruniai anak pertama mereka, Agustina Reawaruw, yang lahir pada tahun 1927. Mereka juga mengangkat seorang anak dari Serui Laut bernama Philip Tanawani, yang kemudian ikut bersama keluarga Reawaruw dalam setiap perpindahan tugas.

Pada tahun 1930, Zakarias Reawaruw dipindahtugaskan ke Kwawi, Manokwari, kemudian melanjutkan pelayanan di Amberbaken, Leksula di Pulau Buru, Maluku, hingga akhirnya mengabdi di Merauke, tepatnya di Kampung Kaliki, Kampung Kondo, dan Kampung Kurkari di wilayah perbatasan Papua Nugini.

Zakarias Reawaruw lahir di Waai, Ambon, pada 20 September 1897 dan wafat di Merauke pada 2 Januari 1970. Sementara istrinya, Yohana Tahitu, lahir pada 24 Juni 1902 dan meninggal dunia di Kampung Kaliki, Merauke, pada 4 Oktober 1947. Selama masa pengabdian mereka, pasangan tersebut dikaruniai delapan orang anak yang lahir di berbagai daerah tempat mereka bertugas.

Kisah pengabdian Guru Zakarias Reawaruw diketahui dari penuturan dua putranya yang masih hidup, yakni Theis Reawaruw di Merauke dan Yoop Reawaruw yang kini menetap di Belanda. Cerita sejarah keluarga tersebut kemudian diteruskan oleh cucunya, Johanis Philips Reawaruw, kepada penulis Crist W. saat masih menjadi dosen di STTJ.

Kisah Guru Zakarias Reawaruw menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan di Pulau Yapen tidak terlepas dari dedikasi para guru Zending yang mengabdikan hidup mereka untuk melayani masyarakat.

Warisan mereka bukan hanya gereja dan sekolah, tetapi juga lahirnya generasi pemimpin Papua yang memberi kontribusi bagi daerah dan bangsa Indonesia. (**)

Kisah Guru Zakarias Reawaruw diceritakan oleh kedua anaknya yang masih hidup, Theis Reawaruw (82) di Merauke dan Yoop Reawaruw (85) di Belanda. Cerita historis ini dilanjutkan kepada saya oleh cucunya Philip Reawaruw mahasiswa saat saya dosen di STTJ (sekarang USTJ).

Catatan : Chris Wayoi