Oleh: Hofni Mandripon
Kabupaten Kepulauan Yapen bukan sekadar titik koordinat di peta Papua. Yapen adalah daerah dengan sejarah panjang, identitas budaya yang kuat, serta masyarakat yang terus bertahan menghadapi berbagai dinamika pembangunan.
Di usia ke-57 tahun, Kepulauan Yapen memiliki alasan untuk melihat ke belakang sekaligus menatap masa depan. Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia dengan semangat Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi: sudah sejauh mana pembangunan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Yapen?
Selama bertahun-tahun, Yapen memiliki filosofi pembangunan yang dikenal melalui ACIS: Aman, Ceria, Indah dan Sehat.
ACIS semestinya tidak berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan sekaligus kontrak sosial antara pemerintah dan masyarakat.
Namun, harus diakui bahwa implementasi nilai-nilai tersebut menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Ketika ACIS Mulai Tergerus
Aman bukan semata-mata berarti tidak adanya gangguan keamanan. Rasa aman juga lahir ketika masyarakat merasa didengar, hak-haknya dihormati dan pemerintah hadir dalam menyelesaikan persoalan secara adil.
Fenomena pemalangan fasilitas publik yang muncul sebagai bentuk protes masyarakat adat patut dilihat secara lebih mendalam. Di balik setiap persoalan tersebut dapat terdapat aspirasi, tuntutan dan rasa ketidakadilan yang belum menemukan ruang penyelesaian.
Karena itu, persoalan pemalangan tidak cukup hanya dilihat sebagai persoalan ketertiban. Ia juga harus dibaca sebagai sinyal bahwa komunikasi antara pemerintah, masyarakat dan pemilik hak ulayat perlu diperkuat.
Ceria juga tidak sekadar tentang suasana masyarakat yang penuh kegembiraan. Keceriaan lahir dari kepastian hidup, kesempatan bekerja, pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau dan ekonomi keluarga yang terus bertumbuh.
Di tengah berbagai kebijakan efisiensi anggaran nasional, daerah dituntut semakin kreatif. Ketergantungan terhadap dana transfer pusat tidak dapat menjadi satu-satunya sandaran pembangunan.
Indah bukan hanya tentang keindahan alam Yapen. Keindahan juga berarti pembangunan yang tertata, lingkungan yang terjaga dan potensi pariwisata yang dikelola secara profesional tanpa mengorbankan alam serta budaya masyarakat.
Sementara Sehat harus dimaknai secara menyeluruh. Pembangunan kesehatan tidak boleh hanya berpusat di wilayah perkotaan. Masyarakat di kampung-kampung yang secara geografis sulit dijangkau harus memperoleh hak pelayanan kesehatan yang layak.
Demokrasi Harus Hadir di Kampung
Demokrasi tidak boleh berhenti setiap lima tahun di bilik suara.
Dengan wilayah pemerintahan yang tersebar di berbagai distrik dan kampung, demokrasi harus diwujudkan dalam bentuk partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan.
Pembangunan yang baik bukan hanya pembangunan yang dirancang pemerintah, tetapi pembangunan yang didengar, dibicarakan dan disepakati bersama masyarakat.
Balai kampung harus dapat menjadi ruang dialog. Pemerintah perlu hadir untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat, bukan hanya ketika muncul persoalan.
Dalam konteks masyarakat adat, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting.
Hak ulayat dan kepentingan masyarakat adat harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pembangunan. Pembangunan jalan, sekolah, puskesmas maupun fasilitas publik lainnya idealnya dimulai dengan komunikasi yang terbuka, negosiasi yang tuntas dan kesepakatan yang transparan.
Ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan, potensi konflik dapat ditekan. Inilah makna “Aman” dalam ACIS yang sesungguhnya: keamanan yang lahir dari keadilan, kepercayaan dan kesepakatan.
Ekonomi Lokal Harus Menjadi Kekuatan
Yapen tidak boleh selamanya melihat pembangunan hanya dari besarnya dana yang datang dari pusat.
Sebagai daerah kepulauan, Yapen memiliki potensi ekonomi yang besar melalui perikanan, pertanian, UMKM dan pariwisata.
Sektor perikanan, misalnya, harus mendapat perhatian lebih besar. Nelayan lokal membutuhkan akses terhadap sarana produksi, armada yang memadai, fasilitas penyimpanan serta pasar yang lebih luas.
Jika mata rantai perdagangan dapat diperpendek dan posisi tawar nelayan diperkuat, maka manfaat ekonomi akan lebih banyak tinggal di masyarakat.
Demikian pula UMKM. Produk lokal Yapen harus didorong masuk ke pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi digital.
Pemerintah daerah dapat mengambil peran melalui pelatihan, pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran dan penguatan kualitas produk.
Pariwisata juga merupakan potensi besar. Keindahan alam Yapen merupakan aset yang harus dikelola secara berkelanjutan dengan tetap menghormati masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur
Reorientasi pembangunan Yapen pada akhirnya harus bermuara pada manusia.
Indeks Pembangunan Manusia tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan pemerintahan. IPM harus diterjemahkan menjadi kualitas pendidikan, kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Kita tidak cukup hanya membangun gedung sekolah. Kita harus memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas.
Kita tidak cukup membangun puskesmas. Kita juga harus memastikan tenaga kesehatan, obat-obatan dan pelayanan tersedia bagi masyarakat.
Kita tidak cukup membangun pasar. Kita harus memastikan masyarakat memiliki produk, keterampilan dan akses untuk meningkatkan pendapatan.
Inilah pembangunan yang berorientasi pada manusia.
Makan Bergizi Gratis dan Tantangan Geografis
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu agenda nasional yang memiliki tujuan penting dalam peningkatan kualitas generasi bangsa.
Namun, karakter geografis Kepulauan Yapen menghadirkan tantangan tersendiri dalam distribusi dan pelaksanaannya, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Karena itu, kebijakan nasional membutuhkan pendekatan lokal. Pemerintah daerah, pemerintah kampung, sekolah, masyarakat dan pelaku ekonomi lokal perlu duduk bersama mencari model distribusi yang sesuai dengan kondisi Yapen.
Program nasional harus dapat diterjemahkan menjadi solusi yang benar-benar sampai kepada anak-anak di kampung.
Koperasi Desa dan Kedaulatan Ekonomi Kampung
Penguatan Koperasi Desa Merah Putih juga harus menjadi bagian dari strategi membangun ekonomi kampung.
Koperasi jangan hanya dibentuk secara administratif. Ia harus benar-benar hidup dan mampu menjadi wadah ekonomi masyarakat.
Koperasi yang sehat dapat membantu petani dan nelayan memperoleh akses pasar, memperkuat posisi tawar dan mengurangi ketergantungan terhadap mata rantai perdagangan yang panjang.
Jika ekonomi kampung kuat, maka ekonomi Yapen juga akan semakin kuat.
Yapen Rumah Kita Bersama
Pada akhirnya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang angka pertumbuhan ekonomi, jumlah proyek atau panjang jalan yang dibangun.
Pembangunan berbicara tentang martabat manusia.
Masyarakat harus merasa bahwa pemerintah hadir bersama mereka. Orang Asli Papua harus mendapatkan ruang yang kuat untuk menentukan masa depan di tanahnya sendiri. Masyarakat adat harus dihormati. Generasi muda harus mendapatkan pendidikan dan kesempatan.
Karena itu, gagasan “Yapen Rumah Kita Bersama” harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang nyata.
Rumah yang aman membutuhkan keadilan.
Rumah yang ceria membutuhkan ekonomi yang hidup.
Rumah yang indah membutuhkan lingkungan yang dijaga.
Rumah yang sehat membutuhkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Itulah ACIS yang sesungguhnya.
Refleksi di Usia 57 Tahun
Usia 57 tahun merupakan perjalanan panjang bagi Kepulauan Yapen. Tetapi kedewasaan sebuah daerah tidak hanya diukur dari usia.
Kedewasaan daerah diukur dari kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk berdialog, menyelesaikan persoalan secara bermartabat, menghormati hak masyarakat adat dan memastikan pembangunan memberi manfaat bagi seluruh rakyat.
Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia harus menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.
ACIS tidak boleh tergerus oleh perubahan zaman. ACIS harus dihidupkan kembali sebagai arah pembangunan.
Yapen membutuhkan reorientasi pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat, ekonomi lokal sebagai kekuatan, masyarakat adat sebagai bagian penting dari proses pengambilan keputusan, serta demokrasi sebagai ruang partisipasi yang nyata.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.
Dari Kepulauan Yapen, mari kita maknai kemerdekaan bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai tanggung jawab untuk membangun daerah dengan hati, menjaga persatuan dan memastikan setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup lebih aman, ceria, indah dan sehat.
Demi Yapen Rumah Kita Bersama yang bermartabat.
















