SERUIPOS.COM – Piala Dunia 2026 akan segera menjadi perhatian dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, turnamen sepak bola terbesar itu digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan format baru yang melibatkan 48 tim peserta.
Di Indonesia, euforia Piala Dunia selalu menghadirkan cerita unik dari Tanah Papua. Jika di daerah lain masyarakat terbagi mendukung Brasil, Argentina, Jerman, atau Inggris, maka di Papua ada satu tim yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat yaitu Belanda dan Brazil.
Brazil punya andil dalam sepakbola Papua, yakni Persipura. Ya, empat juara yang diraih oleh Persipura tidak terlepas dari kontribusi pemain dan pelatih Brazil.
Berbeda dengan dukungan terhadap Tim Oranje bukan sekadar soal sepak bola saja, tapi ada jejak sejarah panjang yang masih hidup dalam memori sosial masyarakat Papua hingga sekarang.
Papua merupakan wilayah terakhir di Nusantara yang berada di bawah administrasi Belanda, yakni sejak 1945 hingga 1962 dengan nama Nugini Belanda.
Dalam periode itu, Belanda tidak hanya membangun sistem pemerintahan, tetapi juga meninggalkan pengaruh sosial melalui pendidikan, kesehatan, dan birokrasi.
Pemerintah kolonial Belanda kala itu dikenal serius mempersiapkan para pamong praja atau Binnenlands Bestuur yang akan ditempatkan di Papua.
Mereka dibekali ilmu pemerintahan sekaligus antropologi budaya sebelum bertugas sebagai camat atau Onderafdeling.
Karena memahami budaya masyarakat setempat, banyak pejabat Belanda saat itu mampu berbaur dengan warga Papua. Mereka dikenal disiplin dalam bekerja, tetapi juga dekat dengan masyarakat.
Hal serupa juga terlihat dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Guru-guru Belanda dikenal tegas, disiplin, dan jarang meninggalkan tugas. Para mantri dan suster bahkan menjangkau kampung-kampung pedalaman untuk melayani masyarakat.
Kesan itulah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun. Tidak heran jika generasi tua Papua masih memiliki kedekatan emosional dengan Belanda, termasuk dalam sepak bola.
Menjelang Piala Dunia 2026, fenomena itu kembali terlihat. Di sejumlah daerah di Papua, atribut warna oranye mulai muncul.
Banyak warga mengaku tetap menjadikan Belanda sebagai tim favorit mereka, meski generasi pemain terus berganti.
Bagi sebagian orang Papua, mendukung Belanda bukan berarti bicara politik. Itu lebih merupakan bagian dari memori sejarah dan identitas budaya populer yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
Sepak bola menjadi ruang nostalgia kolektif. Ketika Belanda bermain, sebagian masyarakat Papua merasa sedang menghidupkan kembali kenangan masa lalu yang pernah membentuk kehidupan sosial mereka.
Piala Dunia 2026 sendiri diperkirakan menjadi salah satu turnamen paling meriah dalam sejarah dengan total 104 pertandingan dan format baru 48 negara peserta.
Dan di tengah gegap gempita sepak bola dunia itu, Papua kemungkinan kembali menghadirkan warna khasnya sendiri: kibaran bendera oranye, kaos Belanda di kampung-kampung, dan dukungan penuh untuk De Oranje seperti Manokwari, Biak, Kota Jayapura dan Serui. (**)
Diadaptasi dari tulisan Hari Suroto, Balai Arkeologi Papua, dan diolah redaksi

















