BERITASosial Masyarakat

Nobar Film PESTA BABI di Mantembu, Warga Diajak Jaga Tanah Adat dan Identitas Papua

378
×

Nobar Film PESTA BABI di Mantembu, Warga Diajak Jaga Tanah Adat dan Identitas Papua

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Arus perubahan zaman yang terus bergerak cepat dinilai menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya dan identitas masyarakat adat Papua. Menyikapi kondisi tersebut, Komunitas GATA PAPUA Yapen bersama Yayasan Dusun Papua (YADUPA) menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter PESTA BABI di Balai Kampung Mantembu, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 18.15 WIT itu dihadiri Ketua Bidang Peradilan Dewan Adat Suku Kabupaten Kepulauan Yapen, Jellin Payai, Ketua Yayasan Dusun Papua (YADUPA), Jakson Yapanani, Ketua Komunitas GATA PAPUA Yapen, Niko Semboari, tokoh adat, pemuda, serta masyarakat Kampung Mantembu.

Film dokumenter PESTA BABI tidak sekadar menampilkan tradisi budaya masyarakat Papua. Film tersebut menjadi media edukasi dan refleksi tentang pentingnya mempertahankan identitas, menjaga tanah adat, serta merawat nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Dalam diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film, peserta menegaskan bahwa generasi muda Papua tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Pemahaman terhadap sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya dinilai menjadi benteng utama untuk menghadapi berbagai pengaruh yang dapat mengikis jati diri masyarakat adat.

Ketua Komunitas GATA PAPUA Yapen, Niko Semboari, mengatakan bahwa budaya Papua harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari dan tidak boleh berhenti hanya sebagai cerita masa lalu.

“Budaya adalah identitas. Jika generasi muda tidak memahami dan menjaga budaya sendiri, maka perlahan jati diri masyarakat Papua akan hilang,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua YADUPA, Jakson Yapanani, menilai pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, upaya menjaga warisan leluhur tidak dapat dibebankan hanya kepada lembaga adat atau komunitas tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.

“Budaya akan tetap bertahan jika masyarakat memiliki kesadaran dan kemauan untuk menjaga serta mewariskannya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Peradilan Dewan Adat Suku Kabupaten Kepulauan Yapen, Jellin Payai, mengingatkan bahwa nilai-nilai adat harus tetap menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Papua meskipun perkembangan zaman terus berlangsung.

Ia menegaskan bahwa adat dan budaya merupakan fondasi penting yang tidak boleh ditinggalkan karena menjadi bagian dari identitas dan eksistensi masyarakat adat Papua.

Diskusi berlangsung hingga pukul 21.51 WIT dalam suasana penuh kebersamaan dan pertukaran gagasan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya menjaga tanah adat, melestarikan budaya, dan memperkuat identitas Papua di tengah berbagai tantangan modernisasi.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan tertib serta mendapat sambutan positif dari masyarakat yang hadir. (**)