Iklan Berbayar
AspirasiBERITAKosiwoPeriwisata

Masyarakat Sarawandori Tetapkan Agustus–September sebagai Kalender Wisata Teluk Mioka, Dinas Pariwisata Jangan Tidur!

46
×

Masyarakat Sarawandori Tetapkan Agustus–September sebagai Kalender Wisata Teluk Mioka, Dinas Pariwisata Jangan Tidur!

Sebarkan artikel ini
Andi Leo - Ketua Panitia Festival Teluk Mioka
Andi Leo - Ketua Panitia Festival Teluk Mioka

Festival Teluk Mioka Jangan Sekadar Seremonial, Pemda Yapen Diminta Bergerak dan Tetapkan Agustus–September sebagai Kalender Wisata

 

SURVEI Juli - Agustus 2026

SARAWANDORI, SERUIPOS.COM Festival Teluk Mioka tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang ramai sehari, lalu dilupakan setelah panggung dibongkar.

Masyarakat Sarawandori secara tegas meminta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, untuk mengambil langkah nyata dengan menetapkan Agustus–September sebagai bulan Festival Teluk Mioka dan memasukkannya dalam kalender wisata daerah.

Aspirasi tersebut disampaikan melalui Kepala Kampung Sarawandori Dua, Lambert Karubaba, saat Festival Teluk Mioka, Sabtu (22/8/2026).

Lambert Karubaba - Kepala Kampung Sarawandori Dua
Lambert Karubaba – Kepala Kampung Sarawandori Dua

Lambert menegaskan, masyarakat sudah menunjukkan kemauan dan kesiapan. Karena itu, pemerintah daerah jangan hanya hadir ketika kegiatan sudah berjalan, tetapi harus mengambil peran dalam perencanaan dan pengembangan festival untuk tahun-tahun berikutnya.

“Masyarakat meminta agar bulan Agustus dan September ditetapkan sebagai bulan Festival Teluk Mioka. Kami minta dinas terkait dapat melihat hal ini agar di tahun 2027 dapat melakukan Festival Teluk Mioka lebih baik lagi. Masyarakat siap mendukung sepenuhnya,” tegas Lambert.

Menurutnya, apabila pemerintah serius membangun sektor pariwisata, maka potensi yang lahir dari masyarakat seperti Festival Teluk Mioka harus mendapat ruang dan dukungan yang jelas.

Jangan Hanya Membuat Kegiatan, Potensi Lokal Harus Dikelola

Ketua Panitia Festival Teluk Mioka, Andi Leo, bahkan menyampaikan kritik lebih keras terhadap pola pengelolaan pariwisata daerah.

Ia meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tidak hanya sibuk membuat kegiatan pada momentum tertentu, terutama menjelang akhir tahun, sementara potensi wisata yang sudah digerakkan masyarakat justru tidak mendapatkan pengelolaan berkelanjutan.

Andi Leo - Ketua Panitia Festival Teluk Mioka
Andi Leo – Ketua Panitia Festival Teluk Mioka

“Jangan hanya gemar buat kegiatan di akhir tahun, tapi bagaimana harus mengelola potensi yang ada,” kata Andi Leo.

Menurutnya, Festival Teluk Mioka adalah contoh bahwa masyarakat dan pemuda mampu menciptakan sebuah kegiatan wisata dari bawah. Pemerintah seharusnya hadir untuk memperkuat, bukan membiarkan masyarakat bekerja sendiri.

Festival Teluk Mioka Akan Dipatenkan

Andi Leo juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengupayakan hak cipta Festival Teluk Mioka agar nama dan konsep festival tersebut memiliki perlindungan hukum.

Mahasiswa KKN Universitas Cenderawasih Kelompok 41, yang turut merencanakan pelaksanaan festival, disebut akan membantu proses pengurusan hak cipta tersebut.

Langkah ini dinilai penting agar Festival Teluk Mioka memiliki identitas yang jelas dan dapat dikembangkan menjadi agenda wisata tahunan Kabupaten Kepulauan Yapen.

Jangan Biarkan Masyarakat Berjuang Sendiri

Pemerintah Kampung, Karang Taruna, dan masyarakat Sarawandori menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPR Provinsi Papua, Denny Hendri Bonai, yang telah memberikan dukungan dan hadir dalam Festival Teluk Mioka.

Apresiasi juga diberikan kepada mahasiswa KKN Uncen serta seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan festival.

Namun, setelah festival selesai, pertanyaannya kini berada di tangan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen:

Apakah Festival Teluk Mioka akan dibiarkan menjadi kegiatan sekali lewat, atau benar-benar dijadikan kalender wisata resmi daerah?

Masyarakat Sarawandori sudah menyatakan sikap: mereka siap mendukung.

Kini yang ditunggu bukan lagi sekadar ucapan dukungan, tetapi keberanian pemerintah daerah mengambil keputusan dan menyiapkan Festival Teluk Mioka 2027 dengan lebih serius, terencana, dan profesional.

Jangan sampai masyarakat sudah bergerak, pemuda sudah berkarya, mahasiswa sudah membantu, tetapi pemerintah justru datang belakangan.

Potensi wisata ada di depan mata. Tinggal pemerintah mau bergerak atau tidak. (**)