Iklan Berbayar
BERITABudayaCerita Warga

Ada Pengetahuan Lokal Menurunkan Hujan di Yapen, Jekson Yapanani Ajak Masyarakat Adat Melestarikannya

7
×

Ada Pengetahuan Lokal Menurunkan Hujan di Yapen, Jekson Yapanani Ajak Masyarakat Adat Melestarikannya

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kepulauan Yapen, sebuah pengetahuan lokal masyarakat adat kembali menjadi perhatian. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun itu berkaitan dengan cara masyarakat adat berikhtiar menghadirkan hujan menggunakan media yang bersumber dari alam.

Ketua Yadupa Cabang Yapen, Jekson Yapanani, mengajak masyarakat adat di Kepulauan Yapen yang masih memiliki keterhubungan dengan pengetahuan lokal tersebut untuk tidak ragu melestarikannya sebagai bagian dari warisan budaya.

SURVEI Juli - Agustus 2026

Menurutnya, apabila pengetahuan tersebut masih dimiliki oleh masyarakat adat dan dilakukan dalam konteks tradisi serta budaya setempat, hal itu dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat dalam menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan.

“Pengetahuan lokal masyarakat adat tentang menurunkan hujan dengan media dari alam seperti daun pohon tertentu dan air sungai merupakan pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur. Bagi masyarakat yang masih terhubung dengan pengetahuan tersebut, silakan dilakukan untuk menolong masyarakat menghadapi situasi kemarau yang berkepanjangan,” ujar Jekson, Minggu 23/8/2026.

Ketika Kemarau Mengubah Kehidupan Masyarakat

Kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Bagi masyarakat Kepulauan Yapen yang sebagian kehidupannya bergantung pada alam, berkurangnya curah hujan dapat berdampak langsung terhadap berbagai aspek kehidupan.

Ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan yang paling terasa. Kondisi lahan dan kebun juga ikut terdampak karena tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup. Aktivitas masyarakat di darat maupun laut dapat mengalami perubahan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Dari sisi kesehatan, cuaca panas dan kondisi lingkungan yang kering juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Lebih jauh, kondisi panas dan kering yang disertai tiupan angin kencang dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada wilayah yang memiliki vegetasi dan lahan yang mudah terbakar.

Situasi tersebut membuat masyarakat kembali melihat pentingnya hubungan antara manusia, alam dan pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur.

Bukan Sekadar Soal Kepercayaan

Jekson menegaskan bahwa pengetahuan lokal tersebut tidak semestinya langsung dipandang sebagai praktik jimat ataupun dikaitkan semata-mata dengan animisme dan dinamisme.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologis yang terbentuk melalui pengalaman panjang dalam membaca tanda-tanda alam, mengenali tumbuhan, air, cuaca dan berbagai perubahan lingkungan di sekitarnya.

“Ini bukan soal jimat atau kepercayaan animisme dan dinamisme, tetapi pengetahuan lokal dari masa lalu yang diturunkan dari moyang kepada generasi berikutnya. Pengetahuan tersebut tentu memiliki nilai bagi masyarakat dan hubungan mereka dengan alam,” katanya.

Ia menilai, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern, pengetahuan lokal masyarakat adat tidak seharusnya serta-merta dihilangkan. Sebaliknya, pengetahuan tersebut perlu didokumentasikan, dipelajari dan ditempatkan secara proporsional sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Yapen.

Merawat Keseimbangan Alam

Bagi masyarakat adat, alam bukan sekadar ruang untuk mengambil sumber daya. Alam memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia. Karena itu, pengetahuan yang diwariskan leluhur juga mengandung nilai tentang bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan.

Jekson berpandangan, praktik-praktik tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat perlu dilihat sebagai bagian dari identitas dan pengetahuan lokal yang memiliki nilai sosial dan budaya.

Di tengah kemarau panjang yang sedang dirasakan masyarakat, ia berharap generasi muda tidak kehilangan pengetahuan yang selama ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun demikian, upaya menghadapi kemarau tetap perlu berjalan bersama langkah-langkah nyata seperti penghematan air, perlindungan sumber air, pencegahan kebakaran serta pemantauan kondisi cuaca dan lingkungan.

Pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat menjadi ruang dialog untuk memahami bagaimana masyarakat Yapen sejak dahulu membaca alam dan menjaga keseimbangan kehidupan di dalamnya. (**)

Di tengah panas yang semakin terasa, pesan yang diwariskan para leluhur itu kembali menemukan relevansinya: manusia hidup dari alam, sehingga alam pun harus dirawat dan dihormati.