Serui Pos – Nama besar Boaz Solossa selama ini dikenal sebagai ikon sepakbola Papua dan legenda Persipura Jayapura. Namun tidak banyak yang mengingat bahwa dalam perjalanan kariernya, Boaz juga pernah berseragam Perseru Serui, klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Kepulauan Yapen yang dulu menjadi salah satu kekuatan penting sepakbola di Tanah Papua.
Momen Boaz bersama Perseru (2000 – 2001) menjadi salah satu catatan sejarah yang tidak boleh hilang, karena membuktikan bahwa Serui pernah menjadi panggung besar yang disaksikan seluruh Indonesia.
Tak hanya Boaz, Perseru juga pernah dihuni sejumlah pemain lokal kebanggaan Yapen, seperti Bertho Saidui, Aldo Nako, Roni Samai, Charistian Worabai dan Jeky Wainaribaba. Nama-nama ini menjadi bukti bahwa anak-anak Yapen pernah berdiri membawa nama daerah dengan penuh harga diri.
Perseru Dijual, Tapi Sejarah Tidak Bisa Dijual
Saat ini Perseru memang sudah tidak lagi menjadi klub yang berkompetisi membawa nama Serui seperti dulu. Klub yang pernah menjadi simbol kebanggaan masyarakat Yapen itu telah berpindah kepemilikan.
Namun bagi pecinta sepakbola di Serui, satu hal yang tidak berubah, Perseru adalah sejarah.
Perseru bukan hanya tentang klub, tetapi tentang mimpi ribuan anak muda Yapen yang pernah melihat langsung para pemain hebat berlari di lapangan, mengenakan warna kebanggaan daerah.
“Perseru boleh dijual, tapi semangat sepakbola Yapen tidak akan pernah dijual. Karena itu ada di hati orang Yapen,” ujar mantan pemain Perseru Serui di Liga 1, Tonny Roi Ayomi.
Pesan untuk Anak Muda Yapen: Jangan Menyerah
Sejarah mencatat, kehadiran Boaz Solossa di Perseru pada masa lalu harus menjadi pengingat kuat bagi generasi muda Yapen bahwa mimpi bermain di level nasional itu nyata, bukan sekadar cerita.
Jika dulu Perseru bisa menghadirkan Boaz dan melahirkan nama-nama lokal seperti Charistian Worabai, Oktovianus Maniani, Artur Bonai, Kalvin Wopi, Tonny Roi Ayomi, Boas Aturuti dan lainnya, maka hari ini pun Yapen masih punya peluang yang sama.
Yang dibutuhkan adalah disiplin latihan, mental kuat, kerja keras, dan keberanian untuk bersaing tapi juga harus berani untuk mengikuti turnamen dan seleksi dimana kesempatan itu ada.
Sepakbola modern tidak hanya soal bakat, tetapi juga soal konsistensi.
Meski Perseru tidak lagi ada seperti dulu, semangat sepakbola di Kepulauan Yapen tidak boleh padam. Justru kondisi ini harus menjadi alarm bagi semua pihak pemerintah daerah, sekolah, komunitas, hingga klub-klub lokal untuk membangun kembali sistem pembinaan yang serius.
Turnamen usia dini, liga kampung, sekolah sepakbola, dan pembinaan di distrik-distrik harus kembali hidup. Karena sepakbola bukan hanya olahraga, tetapi juga jalan masa depan bagi banyak anak Papua, termasuk anak-anak Yapen.
Perseru Serui pernah menjadi rumah bagi banyak talenta. Pernah menjadi panggung. Pernah membuat Yapen disegani. Dan hari ini, warisan itu ada di tangan generasi muda.
Jika Boaz Solossa pernah memakai seragam Perseru, maka itu adalah tanda bahwa Serui pernah besar, dan Serui bisa besar lagi dengan generasi baru yang lebih siap, lebih kuat, dan lebih berani. Sepakbola Yapen tidak selesai. Perseru boleh hilang, tapi mimpi harus terus hidup.(*)
















