Serui Pos – Di sebuah ruang praktik sederhana di Kota Jayapura, seorang dokter lanjut usia masih duduk melayani pasien yang datang silih berganti. Rambutnya telah memutih, langkahnya tak lagi secepat dulu. Namun semangatnya untuk menolong sesama tetap menyala.
Dialah Fransiskus Xaverius Sudanto, dokter yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk masyarakat Papua. Kini di usia 85 tahun, ia masih membuka praktik dan menerima pasien seperti hari-hari sebelumnya.
Bagi warga sekitar, ia bukan sekadar dokter. Ia adalah harapan.
Masyarakat mengenalnya dengan julukan sederhana namun penuh makna: “Dokter Rp2.000.” Julukan itu muncul karena biaya pengobatan yang ia tetapkan sangat murah—hanya sekitar dua ribu rupiah. Di tengah mahalnya biaya kesehatan, tarif tersebut terasa hampir mustahil.
Namun bagi dr. FX Sudanto, panggilan hidupnya tidak pernah tentang uang.
Memilih Jalan Pengabdian
Puluhan tahun lalu, setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya, dr. Sudanto mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia memilih datang dan mengabdikan diri di Papua—wilayah yang pada masa itu masih sangat kekurangan tenaga medis.
Di tanah yang jauh dari pusat pembangunan kesehatan itu, ia memulai perjalanan panjang sebagai dokter yang melayani masyarakat tanpa banyak perhitungan.
Hari demi hari berlalu dengan pola yang hampir sama: pasien datang dengan berbagai keluhan, dari sakit ringan hingga penyakit yang membutuhkan perhatian serius. Sebagian datang dari kampung-kampung jauh, membawa harapan agar bisa pulang dengan tubuh yang lebih sehat.
Tidak sedikit pula yang datang tanpa membawa uang.
Namun hal itu tidak pernah menjadi persoalan baginya. Banyak pasien yang pulang tanpa membayar sepeser pun, tetapi tetap membawa sesuatu yang jauh lebih penting—kesempatan untuk sembuh dan rasa kemanusiaan yang hangat.
Ketulusan yang Menyentuh Banyak Orang
Selama puluhan tahun, kisah dr. Sudanto menyebar dari mulut ke mulut. Ia dikenal sebagai dokter yang selalu membuka pintu bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Bagi banyak keluarga di Papua, kehadirannya menjadi penyelamat ketika sakit datang menghampiri dan biaya pengobatan terasa begitu berat.
Kini usia telah menempatkannya di masa senja. Tangan yang dulu kuat kini terkadang bergetar. Tubuhnya tidak lagi sekuat saat pertama kali datang ke Papua puluhan tahun lalu.
Namun satu hal tetap sama: niatnya untuk menolong orang lain.
Di ruang praktik yang sederhana itu, ia masih duduk menerima pasien, mendengarkan keluhan mereka, dan berusaha memberikan pengobatan sebaik mungkin.
Pemandangan tersebut sering membuat banyak orang tersentuh. Di balik tubuh yang semakin renta, tersimpan hati yang begitu besar untuk kemanusiaan.
Mengingatkan Bahwa Ketulusan Masih Ada
Di dunia yang semakin sibuk dan sering kali diukur dengan nilai materi, kisah dr. FX Sudanto menghadirkan pengingat sederhana: bahwa ketulusan masih ada.
Ia hidup dalam sosok seorang dokter tua di Jayapura yang memilih tetap mengabdi, bahkan ketika usia telah memintanya untuk beristirahat.
Bagi masyarakat Papua, ia bukan hanya dokter.
Ia adalah simbol kepedulian—bahwa pelayanan kesehatan, pada akhirnya, adalah tentang kemanusiaan.
















