SERUIPOS.COM – Yayasan Anak Dusun Papua (Yadupa) bersama masyarakat melakukan kegiatan pendampingan serta penanaman kembali bibit pohon sagu di Kampung Ariepi dan Kampung Sarawandori, Kabupaten Kepulauan Yapen.
Program yang dimulai sejak Oktober 2025 tersebut bertujuan menjaga kelestarian hutan sagu sekaligus mempertahankan sagu sebagai sumber pangan lokal masyarakat Papua.
Kegiatan diawali dengan pertemuan antara Yadupa, pemerintah kampung, dan masyarakat adat di kedua kampung. Dalam pertemuan tersebut dilakukan sosialisasi mengenai pentingnya pemanfaatan sagu secara berkelanjutan, ancaman kepunahan hutan sagu, serta langkah-langkah strategis pelestariannya.
Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga dibentuk kelompok dampingan sagu di masing-masing kampung untuk memperkuat peran masyarakat dalam menjaga dan mengelola hutan sagu.
Memasuki November 2025, kegiatan dilanjutkan dengan survei lapangan, pengambilan titik koordinat bidang sagu, serta pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kepunahan. Selanjutnya pada Desember 2025 dilakukan verifikasi dan validasi data bersama masyarakat adat dan pemerintah kampung.
Hasil pendataan menunjukkan bahwa luas hutan sagu di Kampung Ariepi mencapai sekitar 469,81 hektare, sedangkan di Kampung Sarawandori sekitar 50,97 hektare.
Namun demikian, sebagian lahan sagu diketahui telah beralih fungsi untuk pembangunan fasilitas umum maupun kepentingan pribadi. Ancaman terhadap keberadaan hutan sagu juga dipicu oleh aktivitas penebangan liar serta kebiasaan pengolahan sagu yang tidak berkelanjutan.
Sebagai langkah tindak lanjut, Yadupa bersama kelompok sagu melakukan proses pembibitan dan perendaman bibit secara alami selama tiga bulan.
Pada 16 Maret 2026, dilakukan penanaman kembali sebanyak 30 pohon sagu di Kampung Ariepi, kemudian dilanjutkan dengan penanaman 31 pohon sagu di Kampung Sarawandori pada 17 Maret 2026.
Ketua Cabang Yapen Yadupa, Jekson M. Yapanani, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga manusia, tanah, dan sumber daya alam Papua sebagaimana hasil Konferensi Masyarakat Adat Papua IV Tahun 2021.
“Jika masyarakat adat tidak segera mengambil langkah pelestarian, maka hutan sagu akan hilang. Saat ini masih ada kesempatan untuk memulai, jangan ditunda,” ujarnya.
Ketua Kelompok Sagu Ariepi, Yusuf Kapanai, mengungkapkan bahwa keberadaan hutan sagu di wilayahnya mulai terancam akibat pembangunan yang terus berkembang. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menanam sagu di lahan yang masih tersedia.
Sementara itu, Sekretaris Kampung Ariepi, Jhon Sembai, mengapresiasi peran Yadupa dalam mendampingi masyarakat menjaga sagu sebagai sumber pangan lokal.
Ia menegaskan bahwa pemerintah kampung akan terus mendukung keberlanjutan program tersebut agar hutan sagu tetap terjaga.
Hal serupa juga disampaikan Ketua Kelompok Sagu Sarawandori, Gerald Wayeni, yang menilai kegiatan tersebut membantu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga pohon sagu dari kerusakan.
Sekretaris Kampung Sarawandori, Marthen Sambari, turut menyampaikan terima kasih kepada Yadupa atas kontribusinya dalam pelestarian lingkungan di wilayah kampungnya.
Ia berharap upaya tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak hanya memanfaatkan sagu, tetapi juga menjaga keberlanjutan hutan sagu bagi generasi mendatang.
Melalui program pendampingan ini, diharapkan pelestarian sagu sebagai pangan lokal khas Papua dapat terus berjalan dan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang di Kabupaten Kepulauan Yapen.
















