BERITAPemerintahanSosial Masyarakat

Miris! Panti Asuhan di Yapen Serba Kekurangan, DPR Papua Willem Bonai Dorong Intervensi Pemerintah

485
×

Miris! Panti Asuhan di Yapen Serba Kekurangan, DPR Papua Willem Bonai Dorong Intervensi Pemerintah

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Ketua Kelompok Khusus (Poksus) DPR Provinsi Papua, Willem Zaman Bonai, melaksanakan kegiatan reses di Kabupaten Kepulauan Yapen dengan mengunjungi Panti Asuhan Wahyu Illahi yang berlokasi di Mariadei, Distrik Anotairei, Kamis (19/3/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Willem Zaman Bonai berbagi kasih dengan anak-anak panti melalui kegiatan buka puasa bersama serta penyerahan bantuan pakaian menjelang Hari Raya.

- Iklan Berbayar -

“Iya, ini bagian dari reses kami sebagai anggota DPR Papua di daerah pengangkatan Yapen. Dalam momentum lebaran ini, kami berbagi dengan anak-anak, cucu-cucu kami di panti asuhan,” ujar Bonai.

Ia menegaskan, panti asuhan tersebut memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi karena menampung anak-anak tanpa membedakan latar belakang agama.

“Panti ini bukan hanya untuk anak-anak Muslim, tetapi juga Kristen. Mereka menampung anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan menyekolahkan mereka sampai selesai. Ini hal yang sangat positif,” ungkapnya.

Namun demikian, Bonai mengakui masih banyak keterbatasan yang dihadapi pihak panti, mulai dari fasilitas hingga kebutuhan dasar anak-anak.

“Aspirasi yang kami dengar hari ini akan kami bawa dan bicarakan, baik di tingkat pemerintah kabupaten maupun provinsi, agar bisa mendapat perhatian,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menyoroti kondisi anak-anak dari kampung yang datang ke kota untuk menempuh pendidikan tanpa pendampingan yang memadai.

“Banyak anak-anak kita dari kampung datang ke kota untuk sekolah karena orang tua tidak mampu. Mereka tinggal sendiri tanpa bimbingan, sehingga ada yang akhirnya salah jalan,” katanya.

Menurutnya, penguatan panti asuhan menjadi solusi strategis dalam menyelamatkan generasi muda Papua.

“Kalau kita mau selamatkan anak-anak Papua, maka panti-panti asuhan ini harus kita perhatikan dan difasilitasi dengan baik. Supaya mereka bisa tinggal, belajar, dan dibimbing,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) dapat diarahkan untuk mendukung panti asuhan sebagai pusat pembinaan anak-anak Papua.

“Dana Otsus bisa diarahkan ke panti-panti ini, karena mereka menampung dan membimbing anak-anak Papua,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua panti, Sahida Alting, menyampaikan bahwa panti yang dipimpinnya telah berdiri sejak tahun 2005 dan saat ini menampung 19 anak dengan enam orang pengasuh.

“Panti ini kami jalankan secara swadaya. Fasilitas masih sangat terbatas, mulai dari tempat tidur, makan, hingga kebutuhan sekolah anak-anak,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan dari pemerintah terakhir diterima pada masa pandemi COVID-19.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah melalui bapak dewan, bukan hanya untuk panti kami, tetapi juga panti-panti lain,” harapnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong perhatian pemerintah terhadap keberadaan panti asuhan sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Tanah Papua. (*)