Iklan Berbayar
BERITASosial MasyarakatTANAH PAPUA

Edgar : Musik AI Rugikan Seniman, AI Tak Bisa Diundang ke Panggung Hiburan Gantikan Kami

1930
×

Edgar : Musik AI Rugikan Seniman, AI Tak Bisa Diundang ke Panggung Hiburan Gantikan Kami

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Seniman dan penyanyi asal Serui, Papua, Edgar Aronggear, menilai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam industri musik membawa dampak besar terhadap para pencipta lagu dan penyanyi.

Meski demikian, menurutnya AI tidak akan mampu menggantikan pertunjukan musik secara langsung yang menjadi kekuatan utama para musisi.

SURVEI Juli - Agustus 2026

Hal itu disampaikan Edgar saat ditemui di kawasan Pantai Rawaido, Serui, Jumat (24/7/2026).

“Perkembangan musik AI sangat cepat dan merugikan pencipta lagu dan juga kami penyanyi,” ujar Edgar.

Ia mengatakan, kemudahan menciptakan lagu dengan bantuan AI membuat persaingan di industri musik semakin berat.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan bagi para penyanyi untuk terus meningkatkan kualitas penampilan mereka di atas panggung.

“Dengan demikian kami penyanyi dituntut untuk live musik panggung dengan baik. Karena AI tidak mungkin diundang, juga efek suara studio dan lipsing itu tidak mungkin diundang,” tegasnya.

Menurut Edgar, masyarakat Papua tetap membutuhkan kehadiran musisi secara langsung dalam berbagai kegiatan budaya, hiburan, hingga acara masyarakat.

Interaksi antara penyanyi dan penonton, energi di atas panggung, serta kemampuan menghibur secara langsung merupakan hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Ia berharap perkembangan AI tidak mengurangi penghargaan terhadap karya para pencipta lagu dan musisi lokal.

Edgar juga mendorong adanya perlindungan hak cipta yang lebih kuat agar karya para seniman tidak dimanfaatkan tanpa izin dalam pengembangan teknologi AI.

Secara global, kekhawatiran serupa juga disampaikan banyak pelaku industri musik.

Sejumlah laporan menyebutkan semakin banyak lagu yang dibuat menggunakan AI beredar di platform digital sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap pendapatan pencipta lagu dan musisi.

Beberapa layanan streaming bahkan mulai mengembangkan sistem untuk mendeteksi lagu yang sepenuhnya dibuat oleh AI, sementara organisasi industri musik mendorong pelabelan khusus terhadap karya yang menggunakan AI demi menjaga transparansi bagi pendengar.

Meski AI dinilai mampu membantu proses produksi musik, banyak pelaku industri berpendapat bahwa kreativitas, emosi, dan kemampuan tampil secara langsung tetap menjadi keunggulan yang hanya dimiliki manusia.

Karena itu, konser dan pertunjukan live diperkirakan akan tetap menjadi ruang penting bagi para musisi untuk mempertahankan eksistensi mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI. (**)