Iklan Berbayar
BERITAKeluhanPeristiwa

Dulu 200 Ribu, Kini Cuma Kejar Setoran ! Jeritan Ojek Pangkalan Serui di Tengah Efisiensi Anggaran Yapen

×

Dulu 200 Ribu, Kini Cuma Kejar Setoran ! Jeritan Ojek Pangkalan Serui di Tengah Efisiensi Anggaran Yapen

Sebarkan artikel ini

SERUI, SERUIPOS.COM — Kebijakan efisiensi anggaran oleh Presiden Prabowo, terasa di Kabupaten Kepulauan Yapen, kian mulai dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Salah satu yang mengaku paling terdampak adalah para pengemudi ojek pangkalan di kawasan Kanopi Pasar Aroro, Serui.

Memasuki akhir Agustus 2026, para pengemudi ojek mengeluhkan semakin lambatnya perputaran uang di tengah masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya jumlah penumpang sekaligus pendapatan harian mereka.

SURVEI Juli - Agustus 2026

Enos Gion Fonataba, salah satu pengemudi ojek pangkalan, mengatakan kondisi ekonomi tahun ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Enos, sebelumnya pengemudi ojek masih bisa membawa pulang pendapatan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Namun, kondisi tersebut kini semakin sulit dicapai.

“Dulu dalam sehari kami bisa meraup pendapatan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Namun, tahun 2026 ini perputaran uang sangat lambat sampai ke masyarakat bawah,” ujar Enos saat ditemui di kawasan Kanopi Pasar Aroro, Jumat (28/8/2026).

Ia mengaku untuk mendapatkan penghasilan Rp50 ribu dalam sehari saja kini bukan perkara mudah. Bahkan, pendapatan yang diperoleh sebagian besar hanya digunakan untuk memenuhi kewajiban membayar setoran kendaraan kepada pemilik armada.

Besaran setoran tersebut berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari.

“Terkadang kami ojek cuma untuk bayar setoran. Kalau dapat Rp70 ribu atau Rp80 ribu, setelah dipotong setoran Rp50 ribu, sisanya baru bisa dipakai untuk beli sayur atau tahu tempe” tuturnya.

Bergantung pada Perputaran Uang Masyarakat

Enos menjelaskan, pendapatan pengemudi ojek sangat bergantung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika daya beli masyarakat menurun dan perputaran uang melambat, dampaknya langsung terasa di pangkalan-pangkalan ojek.

Menurutnya, salah satu momen yang biasanya mampu meningkatkan pendapatan pengemudi ojek adalah hari-hari besar keagamaan maupun saat aktivitas ekonomi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen meningkat.

“Kalau ada momen hari raya atau ketika aktivitas PNS ramai, biasanya penumpang juga banyak. Kami bisa dapat lebih. Tapi sekarang sangat sepi,” katanya.

Kondisi tersebut membuat para pengemudi ojek harus bekerja lebih lama dengan hasil yang belum tentu sebanding.

Bagi Enos dan pengemudi lainnya, penghasilan harian bukan sekadar angka. Dari pendapatan tersebut mereka harus memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli bahan makanan, membayar setoran kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan anak-anak.

Harapan Ekonomi Yapen Segera Pulih

Enos berharap kondisi perekonomian Kabupaten Kepulauan Yapen dapat segera membaik dan dampak dari kebijakan efisiensi anggaran tidak terus menekan masyarakat yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian.

Ia berharap aktivitas ekonomi kembali bergerak sehingga daya beli masyarakat meningkat dan perputaran uang dapat kembali dirasakan hingga ke lapisan masyarakat bawah.

“Kami berharap ekonomi bisa kembali normal. Kalau masyarakat punya uang dan aktivitas berjalan, kami juga bisa dapat penumpang dan penghasilan lebih baik,” harapnya.

Bagi para pengemudi ojek pangkalan di Kanopi Pasar Aroro, kembali bergeraknya roda ekonomi menjadi harapan penting. Sebab, ketika uang berputar, bukan hanya satu sektor yang bergerak, tetapi ikut menghidupkan pedagang pasar, pengemudi ojek, warung kecil hingga pelaku usaha masyarakat.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, masyarakat kecil berharap roda perekonomian Kabupaten Kepulauan Yapen tetap dapat bergerak dan memberikan ruang bagi mereka untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari. (**)

Pewarta : Philips