OPINI

Dari Asrama Uncen hingga Akhir Tragis 26 April 1984 ! Mengenang Arnold Ap, Seniman Papua yang “Ditakuti Karena Menyanyi”

149
×

Dari Asrama Uncen hingga Akhir Tragis 26 April 1984 ! Mengenang Arnold Ap, Seniman Papua yang “Ditakuti Karena Menyanyi”

Sebarkan artikel ini
Arnold Ap - Ia Ditakuti Karena Menyanyi

SERUIPOS.COM | Nama Arnold Ap kembali dikenang setiap 26 April. Bagi sebagian orang, ia bukan sekadar seniman. Ia adalah simbol—tentang suara, identitas, dan keberanian yang lahir dari nyanyian.

Kisah ini dituturkan oleh Alex Runggeary, yang pernah hidup satu asrama bersama Arnold pada awal 1970-an di lingkungan Universitas Cenderawasih. Asrama itu dikenal sebagai “Uncen Atas”, berdiri di lereng yang menghadap Kota Abepura.

- Iklan Berbayar -

Awal yang Sederhana di Asrama

Di masa itu, Arnold adalah mahasiswa biasa. Ia tinggal sekamar bersama Agus Korwa dan Zakeus Jack Wambrauw, mahasiswa Jurusan Geografi Fakultas Keguruan. Tidak ada yang mencolok dari dirinya—sederhana, rajin, dan tenang. Namun, sesuatu mulai tumbuh musik.

Suatu malam minggu, suara nyanyian Arnold menggema dari lereng asrama, mengarah ke Kota Abepura. Lantang, bebas, tanpa ragu. Alex yang saat itu berbaring di bawah pohon akasia sambil mendengarkan radio Australia, sempat bertanya heran—mengapa harus bernyanyi sekeras itu?

Jawabannya baru benar-benar dipahami bertahun-tahun kemudian.

Dari Museum ke Panggung Budaya

Perjalanan hidup membawa Arnold bekerja sebagai kurator di Museum Uncen. Dari sana, ia bersama rekan-rekannya membentuk grup musik Mambesak, sebuah kelompok yang kemudian menjadi fenomena budaya di akhir 1970-an hingga awal 1980-an.

Lewat lagu-lagu daerah, tarian, dan pertunjukan, Mambesak tidak hanya menghibur. Mereka menghidupkan identitas Papua, mengangkat kembali kebanggaan yang lama terpendam.

Namun di masa itu, ekspresi budaya bisa dibaca berbeda.

Nama Arnold dan kawan-kawan mulai masuk radar intelijen. Situasi politik di Papua kala itu memang tegang. Bayang-bayang operasi keamanan, isu Organisasi Papua Merdeka, hingga trauma sejarah seperti Penentuan Pendapat Rakyat 1969, masih terasa kuat di tengah masyarakat.

Kota yang Sunyi dan Penuh Bisik

Alex mengingat suasana Jayapura awal 1980-an sebagai kota yang berubah. Sunyi. Tegang. Orang berbicara pelan, bahkan berbisik. Ada istilah sandi yang beredar: “POT-KEP” potong kepala tanda bahwa operasi intelijen sedang berlangsung.

Penangkapan terjadi. Ketakutan menyebar. Sebagian warga bahkan melarikan diri ke Papua Nugini secara diam-diam. Di tengah suasana itu, kabar tentang Arnold terus beredar.

Malam Terakhir, 26 April 1984

Gerimis turun sejak siang. Malam itu, 26 April 1984, menjadi titik akhir perjalanan Arnold Ap.

Menurut cerita yang beredar di kalangan rekan-rekannya, Arnold dibawa keluar dari tahanan di Polda. Skenarionya disebut sebagai “melarikan diri”. Ia diarahkan menuju Pantai Base G, tempat yang disebut-sebut akan menjadi titik pelariannya.

Namun malam tidak pernah benar-benar memberi jalan.

Di lereng menuju pantai, di bawah gelap dan rindang pohon, terdengar perintah berhenti. Tak lama kemudian, Arnold ditemukan tak bernyawa tubuhnya dengan luka tembak. Kisahnya berakhir di sana. Tapi suaranya tidak.

“Kita Harus Menyanyi Bebas”

Satu kalimat yang diingat Alex hingga hari ini menjadi seperti pesan terakhir yang tak pernah padam:

“Kita mesti menyanyi dengan keras dan bebas seperti ketika kita di kampung dulu, hanya kita bersama alam yang bebas.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam tentang kebebasan, tentang identitas, tentang keberanian untuk tetap bersuara.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Bagi banyak orang, Arnold Ap adalah seniman. Bagi yang lain, ia adalah simbol perlawanan budaya. Bahkan, bagi sebagian kalangan, ia dikenang sebagai pejuang.

Namun satu hal yang sulit dibantah: ia adalah sosok yang “ditakuti karena menyanyi”.

Di tengah keterbatasan ruang berekspresi pada masanya, nyanyian Arnold menjadi lebih dari sekadar musik. Ia menjadi suara yang menggugah kesadaran.

Dan hingga kini, setiap kali lagu-lagu Papua dinyanyikan dengan lantang nama Arnold Ap seakan ikut hidup kembali. (**)

Penulis : Alex Runggeary