Serui – Pelayanan kesehatan di Serui, Kabupaten Yapen Waropen Yapen, pada era 1950-an hingga 1960-an menjadi fondasi penting pembangunan kesehatan di wilayah pesisir Teluk Cenderawasih. Pada masa administrasi Belanda di Irian Jaya (termasuk wilayah Yapen–Waropen) sebelum integrasi ke Indonesia, layanan medis dijalankan oleh dokter, mantri, dan perawat Belanda bersama tenaga kesehatan dari Zending (misi Kristen).
Menurut catatan sejarah kolonial, pelayanan kesehatan pada masa itu relatif terorganisir dan dianggap cukup maju dibanding banyak wilayah berkembang lain pada periode yang sama. Pemerintah kolonial bekerja sama dengan aparat kesehatan dari Zending yang tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga pendidikan kesehatan dasar serta layanan perawatan komunitas.
Karena kondisi geografis Yapen–Waropen yang terdiri dari pulau-pulau dan pesisir, perawat dan tenaga medis menggunakan perahu dayung maupun perahu motor kecil untuk menjangkau kampung-kampung terpencil. Praktik ini dikenal sebagai “perahu Zending” atau semacam puskesmas terapung.
Fokus pelayanan saat itu mencakup vaksinasi, kesehatan ibu dan anak, serta penanganan penyakit endemik seperti malaria, infeksi saluran pernapasan, framboesia (patek), dan kudis. Serui bahkan dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Zending pada 1950–1962, termasuk pelatihan tenaga kesehatan dasar yang kemudian dikirim ke berbagai kampung di Yapen Barat dan Yapen Timur.
Memasuki era pemerintahan Indonesia, pelayanan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen tetap menghadapi tantangan besar. Wilayah kepulauan dan pesisir dengan kondisi geografis sulit membuat akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan tidak merata.
Pemerintah daerah telah berupaya membuka dan mengoperasikan sejumlah puskesmas, termasuk puskesmas rawat jalan, serta merencanakan penguatan layanan rawat inap guna mengurangi beban RSUD Serui yang melayani pasien dari berbagai kabupaten Waropen tapi juga Mamberamo Raya.
Kabupaten Waropen kini menjalin kerja sama rujukan pelayanan kesehatan dengan RSUD Serui di Kepulauan Yapen. Kerja sama ini dinilai penting karena sebelumnya masyarakat Waropen menghadapi keterbatasan layanan rujukan dan harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Dengan adanya kerja sama formal ini, diharapkan akses dan koordinasi pelayanan kesehatan lintas kabupaten menjadi lebih baik dan efisien.
Kendala yang Masih Dihadapi
Sejumlah kendala utama dalam pelayanan kesehatan di wilayah ini antara lain:
-
Kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau dan desa terpencil, menyulitkan mobilitas pasien dan sistem rujukan.
-
Keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, termasuk dokter spesialis dan tenaga medis lengkap di puskesmas maupun pustu.
-
Transportasi dan biaya rujukan, terutama bagi masyarakat kurang mampu di kampung-kampung .
Tantangan ini membuat pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada komitmen distribusi tenaga medis dan dukungan anggaran yang konsisten.
Di tingkat Provinsi Papua, program promotif dan preventif seperti pemeriksaan kesehatan gratis serta penanganan penyakit endemik, malaria, HIV, dan lepra juga mencakup wilayah Yapen dan Waropen.
Penelitian di Kepulauan Yapen menunjukkan bahwa sosialisasi dan penyuluhan kesehatan, khususnya terkait malaria, menjadi komponen penting dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dan menurunkan beban penyakit endemik.
Dari masa perahu dayung di era 1950-an hingga sistem rujukan lintas kabupaten saat ini, pelayanan kesehatan di Yapen–Waropen terus berkembang. Namun satu hal yang tidak berubah: wilayah ini tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang mau hadir, bertahan, dan bekerja nyata di lapangan.
Sejarah sudah membuktikan bahwa ketika tenaga kesehatan hadir di tengah masyarakat, bahkan dengan fasilitas sederhana, dampaknya sangat besar. Kini tantangannya adalah memastikan pelayanan yang merata, profesional, dan berkelanjutan demi masa depan kesehatan masyarakat pesisir Papua. (**)
Penulis Artikel : Mark Imbiri
















