Serui Pos – Di tengah keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan mendesak masyarakat, Plt Kepala Distrik Raimbawi, Dody Lefta, menunjukkan contoh kepemimpinan yang patut diapresiasi. Bersama pemuda dan warga, ia memimpin langsung penimbunan tanjakan Siriwi guna memperlancar akses kendaraan angkutan masyarakat menuju Pasar Awunawai di Distrik Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen.
Langkah ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ini adalah bentuk dukungan nyata terhadap visi dan komitmen Bupati Kepulauan Yapen dalam memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong perputaran ekonomi rakyat.
Akses jalan di tanjakan Siriwi selama ini menjadi kendala bagi mobil angkutan yang membawa hasil kebun dan dagangan warga dari kampung-kampung seperti Woda, Kororompui, Sewenui, dan Waindu. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berdampak pada mobilitas masyarakat secara umum.
Dody Lefta menegaskan bahwa pihaknya memahami komitmen Pemerintah Daerah yang telah berkoordinasi dengan Balai Jalan Daerah Kementerian Pekerjaan Umum untuk penanganan lanjutan. Namun menurutnya, sebagai masyarakat yang bertanggung jawab, tidak selayaknya hanya menunggu.
“Kami tahu dan sadar Pemda sangat peduli terhadap kami dan sudah bersepakat dengan Balai Jalan Daerah Kementerian Pekerjaan Umum. Namun sebagai warga yang baik, kami tidak ingin hanya menunggu, bersungut, dan menyalahkan pemerintah. Kami ingin menunjukkan kontribusi sesuai kemampuan yang ada,” ungkapnya, Sabtu, 28/2/2026.
Sikap ini mencerminkan model kepemimpinan kolaboratif: tidak melempar tanggung jawab, tidak membangun opini negatif, tetapi justru memperkuat kerja pemerintah daerah dari bawah.
Dalam konteks pembangunan di Kabupaten Kepulauan Yapen, peran kepala distrik sangat strategis. Mereka adalah perpanjangan tangan Bupati di lapangan. Ketika kepala distrik mampu membaca kebutuhan rakyat dan bergerak cepat tanpa harus selalu menunggu instruksi formal, maka roda pembangunan berjalan lebih efektif.
Langkah yang dilakukan di Raimbawi juga menjadi pesan moral bahwa pembangunan bukan semata-mata tugas pemerintah kabupaten atau pusat, tetapi kerja bersama. Ketika pemimpin lokal dan masyarakat bersatu, hambatan teknis bisa diatasi secara bertahap sambil menunggu intervensi struktural yang lebih besar.
Aksi gotong royong ini menjadi contoh bahwa membantu Bupati bukan hanya melalui rapat dan laporan administratif, tetapi melalui tindakan nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Inilah wajah kepemimpinan yang dibutuhkan daerah: responsif, solutif, dan mau turun tangan. (**)
















