BERITASosial MasyarakatTANAH PAPUA

Film Pesta Babi Soroti PSN di Papua, Kini Bisa Ditonton Gratis di YouTube

563
×

Film Pesta Babi Soroti PSN di Papua, Kini Bisa Ditonton Gratis di YouTube

Sebarkan artikel ini

SERUIPOS.COM – Film dokumenter investigasi berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita resmi dirilis secara online melalui YouTube pada Jumat (22/5/2026). Perilisan film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu digelar di Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Waena, Jayapura, Papua.

Film tersebut diproduksi secara kolaboratif oleh Watchdoc Documentary bersama Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace, dan LBH Papua Merauke.

Momen perilisan film turut ditayangkan melalui akun Instagram resmi Watchdoc. Dalam video tersebut terlihat pejuang masyarakat adat Papua, Vincen Kwipalo, meresmikan peluncuran film di kanal YouTube JubiTV yang ditandai dengan pemotongan pita bersama.

“Wajah saya ada di situ,” ujar Vincen dalam tayangan tersebut.

Film “Pesta Babi” mendokumentasikan perjuangan masyarakat adat Papua yang menghadapi perampasan tanah akibat ekspansi industri ekstraktif dan proyek strategis nasional di Papua. Film itu menyoroti proyek pangan, biodiesel sawit, dan bioetanol tebu yang disebut berdampak terhadap hutan dan kehidupan masyarakat adat.

Sebelum dirilis secara resmi di YouTube, film tersebut hanya dapat disaksikan melalui agenda nonton bareng (nobar) di berbagai daerah. Pembuat film sengaja mendorong pola pemutaran kolektif agar penonton dapat berdiskusi setelah menyaksikan film.

Namun, pemutaran film ini sempat menuai polemik di sejumlah wilayah. Beberapa agenda nobar dilaporkan dibubarkan aparat dan mengalami pelarangan.

Watchdoc menyebut selama 40 hari musim nobar, lebih dari 11 ribu permintaan pemutaran masuk dan sekitar 1.700 layar nobar telah terselenggara di berbagai tempat di Indonesia.

“Di tengah pembubaran, intimidasi, dan pelarangan, nobar justru tumbuh menjadi ruang bertemu, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ketika ruang publik makin sempit oleh konglomerasi media, algoritma, dan buzzer Rp, layar-layar kecil itu menjelma jadi ruang berbagi gagasan,” tulis Watchdoc.

Pelarangan pemutaran film tersebut mendapat kritik dari berbagai kalangan sipil. Ketua Umum YLBHI, Muhamad Isnur, menilai tindakan pembubaran pemutaran film bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi dan hak publik memperoleh informasi.

“Tindakan pelarangan ini memperlihatkan masih kuatnya praktik sensor dan tekanan terhadap ruang-ruang kebudayaan dan pengetahuan di Indonesia,” kata Isnur.

Menurut YLBHI, aparat keamanan tidak memiliki kewenangan menentukan karya yang boleh atau tidak ditonton masyarakat. Isnur juga menyoroti keterlibatan aparat TNI dalam pembubaran nobar yang dinilai tidak sesuai dengan tugas pokok institusi pertahanan negara.

Ia menegaskan, dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan terhadap sebuah karya seharusnya disikapi melalui diskusi dan kritik, bukan pelarangan maupun intimidasi.

Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” kini dapat disaksikan publik melalui kanal YouTube JubiTV.

Link : https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=UhaVPmZIS9qvCGQN